Menkes: Indonesia Terlatih Hadapi Flu Lebih Ganas

Kompas.com - 30/04/2009, 10:42 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pagi ini WHO telah menetapkan bahwa flu babi/flu Meksiko telah mencapai fase V.

Artinya sudah menular dari manusia ke manusia secara luas, tetapi angka kematiannya tidak setinggi H5N1 (flu burung) yang ada di Indonesia.

"Flu babi angka kematiannya berkisar 6 persen, artinya dari 100 penderita ada 6 yang meninggal," ujar Siti Fadilah sebelum mengikuti diskusi publik di Yogyakarta, Kamis (30/4).

Kalau di Indonesia H5N1, dari 100 yang sakit, ada 80 persen yang meningal. "Jadi, kita sudah terlatih menghadapi flu yang jauh lebih ganas. H1N1 memang jauh lebih cepat penularannya, tapi tidak lebih ganas. Artinya, kita tidak harus sangat takut, tetapi juga tetap waspada," katanya.

Departemen Kesehatan, kata Siti Fadilah, sudah memasang detektor temperatur untuk setiap wisatawan yang masuk sehingga bisa diketahui berapa derajat suhu tubuh masing-masing wisatawan. Jika lebih dari 38 derajat celsius, dia akan segera diperiksa.

"Kita juga menghidupkan kembali sentinel-sentinel untuk mengirimkan sampel ke Depkes. Kita juga merevitalisasi 100 rumah sakit rujukan, puskemas, dan klinik di bandara harus siap," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau